Senin, 06 April 2015

MAAF (Cerpen)

MAAF

            “Sudah berapa lama kita tidak bertemu ?” katanya kepadaku. Disitu aku hanya terdiam dan menatapnya. Tak dapat mengucapkan sepatah katapun.
Sekali lagi ia hanya tersenyum sambil memandang wajahku yang terlihat gugup didepannya.
Andai kamu tahu Za, aku kangen kamu banget. Tapi aku gabisa mengungkapkannya didepanmu secara langsung. Biar saja rindu ini tersimpan diam-diam.
“kenapa sih ? lagi bete ya ?” katanya, sambil menatapku dalam-dalam. Dan lagi-lagi aku hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepalaku seraya mengungkapkan kata “tidak” .
 Sambil menghilangkan rasa gugup, aku pun meneguk es kelapa muda yang ada di depanku secara perlahan, dan pura-pura sibuk mengunyah daging buah tersebut.
            Hari ini terasa seperti mimpi. Bertemu dengan orang yang ku rindu selama ini, walaupun ku tahu rindunya bukan lagi atas namaku. Namun sampai detik ini rinduku masih tetap  atas namanya.
Sakit ?
Hmmmmmmm.
Maaf jika rindu ini masih hinggap dan menyerang tiba-tiba.
Rindu ini menggetar setiap kalinya, entah apa yang harus aku lakukan. Aku merindukanmu. Sekali lagi, aku hanya bisa mengucapkan “maaf” .
Andai kamu tahu Za, apa yang aku rasa selama ini masih sama seperti kita bersama dulu. Andai kamu tahu Za, ku ucapkan kata rela, namun hati tak senada.
            “Udah jam segini. Balik yuk ?” katanya sambil melihat jam di tangan sebelah kirinya. Tampak sibuk ku perhatikan dirinya, mungkin sudah ada janji dengan orang lain yang lebih penting dariku.
“Yaudah ayo” kataku dengan nada lirih. Seakan tak ingin meninggalkan tempat ini, terutama meninggalkan si pemilik rindu ini.
Aku dan dia berjalan bersama, kearah motor-motor kami yang sudah lama menunggu si pemilik yang sedang reunian. Hmmmmmm
Ku langkahkan kaki ini secara perlahan, seraya menyita waktu, agar semakin lama mata ini memandang dirinya. Karena ku tahu, saat-saat seperti ini akan jarang ku rasakan.
Lalu kita pulang. Dia dan aku saling mengendarai motor. Tak seperti dulu, satu motor berdua.
 Namun kini ? tak mungkin lagi seperti dulu. “jangan mimpi” . Iyaaa, inget ko, dia bukan mlikku lagi.
Dibalik perpisahan ini, dia hanya tersenyum melihatku, lalu pergi begitu saja tanpa sepatah katapun. Namun senyumnya sangat bermakna. Melumpuhkan hati dan pikiranku.
 Sudahlaaaaah !!! ingat, dia bukan milikku lagi.
Jangan berharap lebih…
Perjalanan tanpanya pun aku mulai. Aku pulang dengan berat hati meninggalkannya, aku pulang dengan rasa yang tak biasa, aku pulang dengan rindu yang membekas, aku pulang dengan hati yang tak karuan.
Di atas kendaraan roda dua yang ku kendarai ini, tiba-tiba hujan turun dari sudut mataku.
Tiba-tiba wajahnya tampak jelas menghiasi pikiranku, baru saja rindu ini terbayar, namun seketika rindu ini melukiskan wajahnya kembali. Dibalik kanvas, yang sudah penuh dengan namanya.
Hey, sekali lagi maaf. Jika rindu ini masih atas namamu. 
 “Melihat tawamu, mendengar senandungmu, terlihat jelas dimataku warna-warna indahmu, menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu, terlukis jelas bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah kumilikiiiii”
Terdengar suara nyanyian di telingaku. Dan ternyataaaaa..
Itu suara alarm telepon genggamku
Hah, tarnyata mimpi. Aku bermimpi tentang dia.
Ada apa ?
Sepertinya syetan sedang menggoda imanku, agar aku kembali merindukannya.
Tidaaaaaaak !!!
Dia sudah kulepaskan.
Aku melepaskannya bukan karena aku tak mencintainya.
Namun karena aku sangat mencintainyalah ku ambil jalan terbaik ini. Biar saja ia pergi dengan segenap kenangan yang ada. Tenang saja, serahkan semua kepada Allah, kalau dia jodoh ku, pasti akan kembali, namun jika bukan, insyaAllah akan di gantikan dengan yang lebih baik.
Biar sekarang tidak bersama, “mungkin” suatu saat nanti akan selamanya
Yang harus ku lakukan saat ini adalah memperbiki diri, agar menjadi yang terbaik dihadapanNya, dan belajar mencintai dengan tulus sang maha pencinta “Allah” . dan berharap mendapat berkahnya, dan selalu berusaha mencari ridha Nya.
Ku lakukan semua ini karnaMu ya Rabb.
Karena ku tahu, aku adalah manusia yang penuh dosa. Dulu cintaku, ku persembahkan untuk orang yang belum pantas ku cintai, dia belum halal untukku, dan pastinya Allah sangat membenci cinta haram itu “pacaran” iya, terlihat asik dan terlihat keren, di mata para manusia, dan syetan.
Namun dimata Allah ? .

***
 Kawan.. GA PACARAN aja banyak dosanya, apalagi PACARAN ?
“Tinggalkan/Halalkan”

(Risma Ariyandini)